langsung saja, tulisan ini untuk membalas tulisan “kau harus pergi,hary” powered by erika.
1 new message…itulah tulisan ditelepon selulerku.
jam segini, ya ampun. gumamku.
kalau tak penting, sungguh keterlaluan. pikirku seraya mengulurkan tangan ke arah benda paling populer sejagad raya. warnanya hitam. bentuknya batangan.
tiba-tiba bel rumahku berbunyi.
ya ampun, apa lagi ini. pikirku seraya meninggalkan ponsel yang belum sempat kubaca message-nya itu.
hanya berlindung kepada pakaian berbentuk segitiga terbalik, aku pun berjalan sempoyongan ke arah pintu. ku buka pintu, dan semuanya pun gelap.
waaaaaah…pagi yang cerah ya? tanyaku ringan kepadanya.
yup. jawab erika singkat.
minum? kataku.
dia langsung mengambil botol air minum yang kutawarkan tadi.
kami sudah berlari selama +/- 30 menit. cukup melelahkan bagi anak muda yang jarang olah raga. keringat bercucuran, aromanya pun menguasai suasana.
tapi apa mau dikata, kecantikan dari dalam tak dapat ditutupi walau saat-saat terburuk pun terjadi, saat berkeringat.
matahari menjadi latar belakang wajahnya, ketika kulihat wajahnya dari sisi kanannya. cantik.
dan terpikir untuk mengeringkan keringatnya dengan sapu tanganku, tapi, ahhh sudahlah..ini bukan novel atau cerita pendek, paling tidak tak perlu segitunya.
aku memutuskan untuk berdiri dan berjalan selangkah ke depan, kini aku persis berada di depannya.
di taman di tempat kami berada banyak sekali orang tua yang membawa anak-anak mereka. senang dapat melihat momen-momen indah itu. semoga saja kesibukan tak membuat momen ini menjadi langka kelak, janganlah sampai.
aku berbalik ke belakang untuk mengajaknya pergi, namum malang tak dapat ditunda dan senang tak dapat dielakkan. disaat bersamaan pun dia berdiri, kami pun saling berciuman, di sini di taman penuh kebahagiaan ini.
tak lama, cuma 1 atau 2 detik saja. kami pun secara alamiah berpisah, aku kebelakang dan dia terduduk diam. tak lama, cuma 1 atau 2 detik saja. cuma 1 atau 2 detik saja.
dengan cepat aku pun mengajaknya untuk melanjutkan olahraga kami. lari lagi yuk? pinta ku.
ya. jawabnya singkat.
aku lari ke kanan dan dia ke kiri.
namun tiba-tiba kami berhenti di tempat kami masing-masing.
kami saling berpandangan dan berbalas senyum.
setelah momen itu tak sulit bagi kami untuk saling terbuka, hampir seperti berbicara dengan diri sendiri. tak ada batas, tak ada rahasia, seakan-akan kami ini satu. walaupun saat mandi kami tak mungkin mandi di kamar mandi yang sama pada waktu yang sama. itu TAK MUNGKIN.
kami saling bertemu secara teratur dan rutin. hari-hari begitu indah masa itu.
ku lihat sebuah senjata api berperedam berada tepat dikeningku. di manakah kini diriku?
dia sedang sibuk kala suatu waktu aku mengajaknya berjalan ke pantai, berdiam diri di sana dan menikmati kedigdayaan dan kelembutan Sang Pencipta. melihat begitu luasnya samudera dan mendengar lembutnya simponi suara angin yang berpadu dengan suara ombak dengan iringan alunan merdu kicauan burung-burung pantai.
Terpujilah Dia di atas segala sudut pandang yang ada.
sudah menjadi kebiasaanku ketika masalah mengetuk pintu pikiranku dan ku memperbolehkannya masuk untuk berjalan santai di tepi pantai atau duduk tenang menikmati ciptaan Beliau. hal ini mampu menyindir tamu ku itu dan tanpa dipaksa pun dia memilih untuk keluar.
ada wanita di sana, dibalik pohon kelapa.
sepertinya dia seorang pelukis. ku rasa dia seorang yang profesional. ada benda berkaki tiga di depannya, ada kuas, ada banyak tinta.
aku tertarik, tak begitu sebenarnya, aku menghinggapinya. aku melihat lukisannya. aku suka. tapi bukan orangnya, walau cantik.
kurasa dia tak ingin diganggu karena dia tak berdentum ketika aku datang.
aku meninggalkannya perlahan, seolah tak ingin disalahkan akibat buruknya lukisan yang dibuatnya karena kedatanganku.
hei….panggilnya dengan nada ceria dan terasa akrab.
bagaimana menurutmu? tanyanya.
hah? responku.
lukisanku, katanya sedikit berteriak.
ooo…aku pun menuju ke arah dia berdiri.
melihat lagi lukisannya, kali ini dengan seksama. lumayan bagus. jawabku kemudian.
lumayan? di mana letak kekurangannya kalau begitu? tanyanya.
tak ada. aku tak tertarik dengan lukisan, aku hanya heran saja ternyata ada orang selain diriku di sini. jawabku.
ooo….jawabnya.
tapi, kenapa lukisanmu gunung kalau yang kau lihat lautan? tanyaku dengan sedikit nada penasaran.
dengan sigap dia membersihkan tangannya dari tinta warna-warni. aku melihatnya, dia menggosok-gosokkan tangannya ke bajunya. ada bentuk lukisan gunung yang muncul. aku langsung mengalihkan pandangku. fiuh…responku sambil menoleh ke arah laut.
flo, florence. dia menawarkan tanganya untuk dijabat.
aku melihat tangan itu, tangan yang dengan kuas mampu menggambar gunung walau yang dilihat adalah lautan dan tangan itu juga yang memberikan kesempatan padaku melihat bentuk gunung teringan di dunia.
hary. jawabku sambil menjabat tangannya.
sayang, aku mencintaimu, sungguh mencintaimu.
pembicaranku dengan gunung maker (hanya dalam pikiranku sebutan itu terucap) berjalan santai dan begitu menarik. entah dari mana asalnya, tetapi tiba-tiba aku menjadi menyukai lukisan.
panjang lebar kami bercerita hingga larut malam.
kini diriku dan flo, sudah tak di depan lukisan gunung lagi. kini kami duduk di tepi pantai menikmati pemandangan pantai malam hari yang dipenuhi warna-warni cahaya kapal.
aku tak dapat menghentikannya.
tiba-tiba kepalanya sakit, aku tak tau dia sebelumnya, tapi kalau dia mati di sampingku, aku tak mau. dia menjerit kesakitan, meronta-ronta dengan tenaga yang luar biasa, sungguh luar biasa jika seseorang telah didesak oleh rasa sakit yang sangat, aku pun kewalahan dan panik, tak tahu apa yang harus kulakukan.
tanpa sadar atau terlalu konsentrasi, kini aku telah berada di atas tubuhnya, tak ada yang bersentuhan selain tangan, tangan kanannya dipegangi oleh tangan kiriku dan begitu juga sebaliknya. posisi itulah yang mengantarkan ku pergi menemui Sang Pencipta. dilepas oleh cuma 1 atau 2 detik saja.
jangan buka pintunya hary.
erika melihat momen itu. kurasa begitu.
sayang, aku mencintai mu, sungguh mencintaimu.
aku tak dapat menghentikannya.
jangan buka pintunya hary. begitulah bunyi pesan diponselku itu.
kapankah dirimu menyusulku, erika?