Rumah disewakan selama 2 tahun GRATIS

Disewakan rumah selama 2 tahun (bisa nego) GRATIS:

Keterangan rumah:

jenis rumah : Perumnas

type rumah : 36/98

alamat rumah : Teluk Jambe, Karawang, Jabar. (Dekat pintu Tol)

Keadaan rumah :

1. Tidak ada aliran listrik dari PLN

2. Tidak ada aliran air dari PDAM

3. Kerusakan secara umum termasuk kategori rusak sedang

4. informasi lainnya silahkan lihat gambar.

Bagi yang tertarik langsung tinggalkan komentar atau kirim email ke alamat   john_lock02191984@yahoo.com

gambar rumah:

Jika berminat akan diadakan perjanjian sewa menyewa dengan saya dengan beberapa isi perjanjian sebagai berikut:

1. Penyewa TIDAK akan DIKENAKAN BIAYA apapun oleh pemilik rumah selama 2 tahun atau sesuai kesepakatan dari tanggal ditandatanganinya perjanjian sewa menyewa.

2. Penyewa wajib melakukan instalasi/pemasangan listrik dan air PAM ke rumah yang disewakan.

3. Biaya bulan (rekening air dan rekening listrik) menjadi tanggung jawab penyewa sementara pemilik rumah menanggung PBB rumah.

4. Udah, itu aja.

Sekedar info:

1. Sedang dibangun perumahan di seberang jalan dekat rumah ini (lihat gambar).

2. Harga sewa rumah di sekitar wilayah ini adalah 3,5juta/tahun (2tahun = 2 x 3,5 jt = 7 JUTA)

Sementara biaya pemasangan listrik +/- 1 jt dan pemasangan air +/- 300 rb serta renovasi sedang +/- 3 jt.

Kesimpulan:

Anda hanya perlu membayar +/- 4,3 jt untuk dapat tinggal GRATIS selama 2 TAHUN, artinya Anda lebih pintar dari teman-teman anda sebesar 2,7 juta (7 juta – 4,3 juta).

Miyabi dulu dan kini

Adalah velovia remaja manis nan ayu yang telah ternoda oleh pejantan tangguh nan tampan namun sayang tak bertanggungjawab yang selalu menanti-nantikan cerita-cerita singkat dari Hary yang selalu membuatnya senang dan tertawa, hal yang sangat sulit dilakukan ketika kista bersemayam di rahimnya. Hamil di luar nikah dan menderita kista menjadi pukulan yang sangat telak bagi remaja yang dulunya ceria dan begitu mudah akrab dengan banyak orang dan selalu memiliki cita-cita yang tinggi ini.  Inilah salah satu cerita yang disukainya…

Awalnya Miyabi tak kenal lelah untuk terus menerus menanyakan kenapa begitu besar pengertian yang dimiliki Tuhan akan dirinya sampai-sampai dengan teganya Dia menganugrahkan wajah yang begitu tak layak pakai kepada dirinya. Untuk anak gadis dari orang kaya seperti dia seharusnya tak layaklah ia disematkan wajah yang aduh jeleknya. Cantik, kaya dan pintar itulah yang ada di dalam benaknya akan gambaran dirinya, walau sayang untuk kecantikan ia tak dapat meraihnya.

Miyabi adalah satu dari beberapa nama yang sering digunakan di Negara bernama Jeipung, nama lain yang sering digunakan adalah Mashihmoto, Kawankuni dan Masakshi. Miyabi adalah gadis berusia 16 tahun lebih beberapa jam. Ya, baru saja dia merayakan ulang tahunnya. Hatinya sangat senang karena begitu banyak teman yang hadir dalam acara ulang tahunnya yang dirayakan di hotel Yanmaha, hotel langganan para kaum borjuis. Beberapa artis yang diundang menyempatkan datang.

7 Mei 2012 adalah hari ulang tahun terakhirnya yang dirayakan dengan penuh gemerlap yang selanjutnya akan menjadi kenangan yang hanya dapat dibanggakan saja, tak lebih dari itu. 10 jam kemudian ayah dan ibunya meninggalkan kesibukan mereka untuk selama-lamanya di dunia karena masa baktinya dianggap Dia telah selesai dan sudah saatnya untuk menyerahkan dirinya untuk dipindai apakah wajah mereka termasuk dalam member face neraka atau tidak. Miyabi yang buruk rupa pun bersedih karena penyangga kenyamanan finansialnya pergi. Miyabi sendiri dan terlantar, tak ada uang untuknya dari mereka yang dia sebut sebagai orang tua karena hutanglah yang sebenarnya yang menyokong kehidupan borjuis mereka.

Mencari pertolongan adalah langkah spontan yang akan dilakukannya dan tentu saja jawabannya adalah ketiadaan pertolongan. Miyabi belum dewasa dan belum tahu bagaimana menilai kerabat dengan baik, diseumur jagung ini Miyabi menganggap semua kerabatnya sayang dan perhatian padanya, benar-benar sayang. Miyabi belum memiliki sudut pandang yang realistis, masih terlalu tercemar dengan idealisme angan-angan.

Miyabi benci akan kenyataan hidup yang dialaminya. Miyabi putus asa dan sungguh kesal. Miyabi akhirnya tak terkontrol lagi dan tak peduli lagi pada dirinya sendiri, dia kini tak harum dan rapi lagi, kini dia begitu kumal dan telah dapat disetarakan dengan pengemis dijalanan. Miyabi kini sungguh menyedihkan.

Ada sesuatu yang menarik. Waktu itu ketika Miyabi mengganti bajunya dari satu kaos kumal ke kaos kumal lainnya, ada seorang pria yang melihatnya dan mendekatinya, tanpa basa-basi layaknya kehidupan jalanan, pria ini pun langsung memeluk Miyabi dan berniat memperkosanya namun entah kenapa setelah kaos yang hendak diganti Miyabi terlepas dari kepalanya dan memancarkan Miyabi secara keseluruhan, pria ini pun mengurungkan niatnya walau air liur telah beberapa kali keluar dari mulutnya.

Miyabi tak kunjung berhenti berpikir kenapa pria itu tak jadi menggagahinya. Adakah yang salah dengan diriku, pikir Miyabi. Tapi Miyabi beruntung karena tak perlu berpikir hingga akhir hayatnya mengenai hal itu karena seorang pengemis yang lebih senior dan berpengalaman berkata “kalau saja berwajah cantik kamu pasti sudah menjadi wanita muda kaya raya simpanan pengusaha dan pejabat”.

Dahulu Miyabi sedih karena wajahnya jelek namun kini ia bersyukur.

SE Tarif Maksimum Perjalanan Dinas 2010

menjelajah nafsu dalam dunia cermin

perkenalkan namaku sehai, aku muda, bernafsu besar, pintar, tampan, baik hati, polos, lugu, dan tentu saja semuanya itu hanya omong kosong belaka. tapi syukurlah begitu banyak benda, bernama manusia, yang membenciku sehingga kalian tahu bahwa aku tak berbohong. senanglah rasa hati kini karena diri ini tak perlu belajar bahasa babi.

kemudaanku sangat menguntungkan bagiku, aku bisa menjilat, menjilat apapun, aku bisa menusuk, dari depan ataupun belakang, aku bisa menendang siapapun yang menghalangi, teman? apa itu? aku tak kenal.

dengan bangga dan penuh sukacita aku menulis ini, bukan karena aku jujur pada awalnya, ini karena aku tahu bahwa aku seorang pembohong yang hebat, tapi karena benda yang disebut manusia secara terang benderang membenci tulisanku maka aku adalah orang paling jujur di dunia ini. mereka membenci tulisan ini dengan segenap hati mereka, mereka membenci diri mereka sendiri. terkutuklah aku karena aku membuat mereka kembali murni.

perhatikan arah pikirmu dan sadari keberadaan mu. tak rindukah dirimu akan aroma tanah yang lembab kini?

ada kutipan rasa dari hati sang muda yang kecewa, bacalah :

“dengan seiring berjalannya waktu, aku kini menjadi tak remaja lagi, kini aku telah menjadi pemuda tapi tak ada cinta di sini, di dalam hati ini.

ahh…syukurlah kini, aku telah muda, aku telah dalam bentuk terbaikku, aku kini dapat berkata jujur, lebih jujur dari masa remajaku, aku tau bahwa rokok baik bagi imanjinasi.

kini aku pemberani, lebih berani dari masa remajaku, masa remaja yang tak berguna. kini aku berani mengatakan “iya itu tidak”.

ohhh…kini nafas menggebu-gebu meminta tumbal tak tentu, apa saja akan kumakan. teman? binatang jenis apa itu? Tuhan? sepertinya aku pernah dengar?

NAFSU, aku tulis dengan huruf kapital. inilah kekuatan yang dicari-cari itu. semua berasal dari sini, segala daya upaya untuk berjaya adalah bermodalkan nafsu.

langkah kecil hanya untuk anak kecil, bagiku langkah besar adalah kewajiban. kecil tak berarti, besar adalah nyata.

dahulu aku ….

kini aku ….

kelak aku ….

dariku untukku

jakarta punya cerita selain cinta

panti asuhanpanti asuhanpanti asuhanpanti asuhan

ini adalah sebagian dari poto-poto yg ku ambil ketika berada di salah satu panti asuhan di jakarta.

sarang ketupatku yang pertama (2)

Aku memilih untuk berbaring di atas pantai, di samping kirinya.

Langit biru dengan awan tipis adalah pemandanganku. indahnya, pikirku.

Lalu aku pun memainkan sarang ketupatku itu. Dengan tangan kanan ku memutar-mutarkannya. Sambil memandanginya aku pun bercerita. Bercerita untuk erika.

Setiap orang memiliki masa lalu. Tidaklah harus semua berkisah tentang kebahagiaan, namun ada pula tentang kesedihan. Kau tau, selalu ada suka ketika duka datang untuk singgah sejenak didiri kita. Selalu ada tawa ketika sedih memutuskan untuk kembali ke tempatnya semula, di sana di tempat yang tak pernah tiada.

Dan selalu ada wanita ketika pemuda beranjak dewasa.

kau tau aku tak tau dan ku tau kau tak tau.

Bukankah hidup ini terasa begitu mudah dan sangat sederhana.

Perhatikanlah hari mu. Ada kalanya kau tampil begitu cantik dan aku suka dan ada kalanya kau begitu kacau tapi aku tak terbawa suasana. Begitulah juga yang terjadi denganku tadi.

Erika, dengarkanlah aku.

Kini saatnya menjadi dewasa, aku dulu pemuda, aku dulu punya rasa dan dulu kau tiada.

Aku percaya, janji dalam hati yang tulus terucap dengan segala keikhlasannya lebih penting dari sumpah yang diucapkan oleh mulut yang dihinggapi rasa ketakutan.

Dulu, aku berjanji akan menanti.

Dulu kau tak di sampingku.

Aku senang dan juga sedih, janji itu pernah terucap.

Senang, karena ku berani bertaruh besar untuk sesuatu yang aku percaya. Dulu.

Sedih, karena kini aku temukan malaikat tak bersayap, menemani hari-hari ku dengan imajinasi dan kebebasan jiwa untuk menemukan sesuatu yang lebih penting dari sekedar melalui hari demi hari. Kini kau si sampingku.

Ingin ku ucap kembali kata-kataku di kota tua kala itu, dengarkanlah:

Erika, satu kata wujud keceriaan sang pencipta.

Erika, langkah ringan tanpa beban.

Erika, belai lembut tak terkira.

Erika, senyuman pendamai hati.

Erika, suatu kata berarti kebebasan jiwa.

Erika, is priceless.

Dan kini erika tak mampu mengerti isi hati ini.

Di udara kulihat dua ekor burung berterbangan bersama, dengan kecepatan sama mereka melakukan manuver tajam dengan terbang vertikal menuju langit luas, seolah ingin menunjukkan bahwa mereka mampu melepaskan diri dari jeratan abadi gravitasi Bumi, Hanya bermodalkan sesuatu yang dikatakan “cinta”.

Sarang ketupatku yang pertama (1)

Har, har, coba lihat. Kata erika padaku dengan penuh semangat.

Ada apa sih? Tanyaku.

Lihatlah, setelah diamati dengan cermat olehku yang cantik ini ternyata hewan terseksi di dunia itu semut. Lihatlah ini. Katanya.

Hah? Kok bisa? Aku terpancing perkataannya.

Dengan bangga dirinya memperlihatkan padaku seekor semut dan dengan lup kami melihatnya. Lup yang selalu dibawa-bawanya.

Lihatlah har, bokongnya itu loh…hahay…gede bangetkan? Kata erika dengan semangat yang entah bagaimana bisa datang.

Apa? Kataku sedikit terkejut.

Iyaaaaaaaaaa, lihatlah. Setelah diriku teliti proporsi antara badan dengan bokongnya semut lebih besar bokongnya looo…katanya.

Ya ampun ka, kukira apa. Sudah tidak ada kerjaan lagi ya? Jawabku setelah terkejut beberapa saat lamanya.

Tapi benar har, coba lihat? Pintanya.

Hah…dan aku pun melihatnya, hanya sekedar untuk membuatnya kalau aku percaya.

Keren ya? Katanya.

Iya. Jawabku singkat.

Ka, aku aku butuh konsentrasi nih, kalau tidak, proyek ku ini tak akan selesai. Kataku padanya.

Proyek apa? Tanya erika.

Adalah. Pokoknya proyek besarlah. Jawabku.

Apa itu har? Beritahukanlah padaku. Pintanya.

Aku diam saja sambil menggerak-gerakkan tanganku mencoba mencari teknik terbaik agar aku mampu menciptakannya dengan bentuk yang normal.

Apa har? Beritahukanlah. Pintanya lagi.

Sanalah ka, lagi konsentrasi diriku ini. Jawabku.

Wah, baiklah. Kau memaksaku menggunakan jurus itu har. Maafkanlah aku karena ku harus melakukannya. Katanya dengan tatapan mata tajam, walau matanya tak bisa melakukannya.

Aku terus menggerak-gerakkan tanganku. Tak peduli pada apapun, bahkan jikalau miss universe lewat dengan pakaian renangnya itu.

Akhirnya setelah merasa cukup, aku pun mengeluarkan dua helai daun kelapa dan langsung memulai membuat sebuah ketupat.

Lama sungguh aku menanti masa-masa ini, masa dimana aku mampu membuat sendiri sarang ketupatku. Tidak lagi berbentuk kubus segi tak terkira. Lama sungguh aku bermimpi untuk dapat membuat sarang ketupat dengan empat buah segi teratur.

Awal-awal ku memulai membuatnya sungguh begitu menegangkan, tanganku berkeringat dan detak jantungku berdetak lebih cepat. Fokusku kini terpecah, antara fokus untuk membuat ketupat itu dan ketakutan akan kegagalan. Jika gagal maka erika harus menangis lagi untuk kedua kalinya. Sungguh aku tak ingin melihatnya begitu lagi.

Aku pun berhenti, mencoba menarik nafas dan berfikir positif bahwa aku bisa.

Beberapa saat lamanya, aku tak menggerakkan tanganku.

Ahh inilah saatnya aku memulainya, pikirku setelah menarik nafas beberapa lamanya.

Dengan optimisme tinggi aku segera memulai kembali. Namun seketika itu juga, erika datang dan mengejutkanku dari belakang.

Hampir saja aku menjatuhkan 2 helai daun kelapa itu.

Seketika itu juga aku balik ke belakang dan dengan raut wajah marah aku pun membentaknya. Dia marah. Aku tak peduli kala itu. Dia pergi. Lagi-lagi aku tak peduli.

Sesudah itu, aku butuh waktu lagi untuk berkonsentrasi lagi. Dan setelah beberapa saat aku pun memulai kembali membuat sarang ketupat dengan 2 helai daun kelapa itu.

Setelah hampir 30 menit berjibaku dengan pertaruhan sisa hidupku, akhirnya aku pun berhasil membuatnya dengan bentuk yang sempurna.

Begitu senang hati ini mampu menyelesaikan suatu pertaruhan hidup yang sungguh sangat penting.

Hasil mahakarya ku itu ku bawa menuju tempat kami biasa berada ketika pelangi hidup mendera, senang sedih, suka duka dan apapun yang membuat diri merasa sendiri sepi hidup di dunia yang hiruk pikuk ini.

Ka. Kataku pelan dari belakang.

Dari belakang terlihat tubuh indah, dengan rambut tergerai.

Aku menunggu jabawaban dari perempuan ini.

Tak ada balasan apa pun. Menoleh pun tidak.

Wah, baiklah. Kau memaksaku menggunakan jurus itu. Maafkanlah aku karena ku harus melakukannya. Kata ku dengan tatapan mata tajam, walaupun ia tak dapat melihatnya.

Kini aku berjalan mendekati tubuh indah itu, aku berdiri di belakangnya. Aku diam sejenak. Dan lalu aku pun melakukan ritual itu.

Aku mengelilinginya dan seraya berkata-kata dalam bahasa yang tak lazim didengar orang Indonesia. Beberapa kali aku mengelilinginya, sambil beberapa kali mempelesetkan kata-kata itu dengan kata-kata yang lucu.

Ga lucu. Katanya cepat dan singkat.

Aku pun berhenti dan sesaat kemudian duduk di samping kiri dirinya.

Kami hanya diam kala itu. Beberapa kali hal ini telah terjadi pada kami. Sudah biasa. Ku yakin dia mulai mengerti dan paham apa yang akan kukatakan.

Ada alasan penting ka. Tak hanya sekedar membuat ketupat.

Dia mulai menggerakkan tangannya dan dengan jari telunjuk ia menulis di atas pasir putih dipinggir pantai ini.

Dia mulai mendengarkan diriku. Syukurlah pikirku.

luka bakar dikaki mu itu

langsung saja, tulisan ini untuk membalas tulisan “kau harus pergi,hary” powered by erika.

1 new message…itulah tulisan ditelepon selulerku.
jam segini, ya ampun. gumamku.
kalau tak penting, sungguh keterlaluan. pikirku seraya mengulurkan tangan ke arah benda paling populer sejagad raya. warnanya hitam. bentuknya batangan.

tiba-tiba bel rumahku berbunyi.
ya ampun, apa lagi ini. pikirku seraya meninggalkan ponsel yang belum sempat kubaca message-nya itu.
hanya berlindung kepada pakaian berbentuk segitiga terbalik, aku pun berjalan sempoyongan ke arah pintu. ku buka pintu, dan semuanya pun gelap.

waaaaaah…pagi yang cerah ya? tanyaku ringan kepadanya.
yup. jawab erika singkat.
minum? kataku.
dia langsung mengambil botol air minum yang kutawarkan tadi.

kami sudah berlari selama +/- 30 menit. cukup melelahkan bagi anak muda yang jarang olah raga. keringat bercucuran, aromanya pun menguasai suasana.
tapi apa mau dikata, kecantikan dari dalam tak dapat ditutupi walau saat-saat terburuk pun terjadi, saat berkeringat.

matahari menjadi latar belakang wajahnya, ketika kulihat wajahnya dari sisi kanannya. cantik.
dan terpikir untuk mengeringkan keringatnya dengan sapu tanganku, tapi, ahhh sudahlah..ini bukan novel atau cerita pendek, paling tidak tak perlu segitunya.

aku memutuskan untuk berdiri dan berjalan selangkah ke depan, kini aku persis berada di depannya.

di taman di tempat kami berada banyak sekali orang tua yang membawa anak-anak mereka. senang dapat melihat momen-momen indah itu. semoga saja kesibukan tak membuat momen ini menjadi langka kelak, janganlah sampai.

aku berbalik ke belakang untuk mengajaknya pergi, namum malang tak dapat ditunda dan senang tak dapat dielakkan. disaat bersamaan pun dia berdiri, kami pun saling berciuman, di sini di taman penuh kebahagiaan ini.

tak lama, cuma 1 atau 2 detik saja. kami pun secara alamiah berpisah, aku kebelakang dan dia terduduk diam. tak lama, cuma 1 atau 2 detik saja. cuma 1 atau 2 detik saja.

dengan cepat aku pun mengajaknya untuk melanjutkan olahraga kami. lari lagi yuk? pinta ku.
ya. jawabnya singkat.

aku lari ke kanan dan dia ke kiri.
namun tiba-tiba kami berhenti di tempat kami masing-masing.
kami saling berpandangan dan berbalas senyum.

setelah momen itu tak sulit bagi kami untuk saling terbuka, hampir seperti berbicara dengan diri sendiri. tak ada batas, tak ada rahasia, seakan-akan kami ini satu. walaupun saat mandi kami tak mungkin mandi di kamar mandi yang sama pada waktu yang sama. itu TAK MUNGKIN.

kami saling bertemu secara teratur dan rutin. hari-hari begitu indah masa itu.

ku lihat sebuah senjata api berperedam berada tepat dikeningku. di manakah kini diriku?

dia sedang sibuk kala suatu waktu aku mengajaknya berjalan ke pantai, berdiam diri di sana dan menikmati kedigdayaan dan kelembutan Sang Pencipta. melihat begitu luasnya samudera dan mendengar lembutnya simponi suara angin yang berpadu dengan suara ombak dengan iringan alunan merdu kicauan burung-burung pantai.

Terpujilah Dia di atas segala sudut pandang yang ada.

sudah menjadi kebiasaanku ketika masalah mengetuk pintu pikiranku dan ku memperbolehkannya masuk untuk berjalan santai di tepi pantai atau duduk tenang menikmati ciptaan Beliau. hal ini mampu menyindir tamu ku itu dan tanpa dipaksa pun dia memilih untuk keluar.

ada wanita di sana, dibalik pohon kelapa.
sepertinya dia seorang pelukis. ku rasa dia seorang yang profesional. ada benda berkaki tiga di depannya, ada kuas, ada banyak tinta.

aku tertarik, tak begitu sebenarnya, aku menghinggapinya. aku melihat lukisannya. aku suka. tapi bukan orangnya, walau cantik.

kurasa dia tak ingin diganggu karena dia tak berdentum ketika aku datang.

aku meninggalkannya perlahan, seolah tak ingin disalahkan akibat buruknya lukisan yang dibuatnya karena kedatanganku.

hei….panggilnya dengan nada ceria dan terasa akrab.
bagaimana menurutmu? tanyanya.

hah? responku.

lukisanku, katanya sedikit berteriak.

ooo…aku pun menuju ke arah dia berdiri.
melihat lagi lukisannya, kali ini dengan seksama. lumayan bagus. jawabku kemudian.

lumayan? di mana letak kekurangannya kalau begitu? tanyanya.

tak ada. aku tak tertarik dengan lukisan, aku hanya heran saja ternyata ada orang selain diriku di sini. jawabku.

ooo….jawabnya.

tapi, kenapa lukisanmu gunung kalau yang kau lihat lautan? tanyaku dengan sedikit nada penasaran.

dengan sigap dia membersihkan tangannya dari tinta warna-warni. aku melihatnya, dia menggosok-gosokkan tangannya ke bajunya. ada bentuk lukisan gunung yang muncul. aku langsung mengalihkan pandangku. fiuh…responku sambil menoleh ke arah laut.

flo, florence. dia menawarkan tanganya untuk dijabat.

aku melihat tangan itu, tangan yang dengan kuas mampu menggambar gunung walau yang dilihat adalah lautan dan tangan itu juga yang memberikan kesempatan padaku melihat bentuk gunung teringan di dunia.

hary. jawabku sambil menjabat tangannya.

sayang, aku mencintaimu, sungguh mencintaimu.

pembicaranku dengan gunung maker (hanya dalam pikiranku sebutan itu terucap) berjalan santai dan begitu menarik. entah dari mana asalnya, tetapi tiba-tiba aku menjadi menyukai lukisan.

panjang lebar kami bercerita hingga larut malam.

kini diriku dan flo, sudah tak di depan lukisan gunung lagi. kini kami duduk di tepi pantai menikmati pemandangan pantai malam hari yang dipenuhi warna-warni cahaya kapal.

aku tak dapat menghentikannya.

tiba-tiba kepalanya sakit, aku tak tau dia sebelumnya, tapi kalau dia mati di sampingku, aku tak mau. dia menjerit kesakitan, meronta-ronta dengan tenaga yang luar biasa, sungguh luar biasa jika seseorang telah didesak oleh rasa sakit yang sangat, aku pun kewalahan dan panik, tak tahu apa yang harus kulakukan.

tanpa sadar atau terlalu konsentrasi, kini aku telah berada di atas tubuhnya, tak ada yang bersentuhan selain tangan, tangan kanannya dipegangi oleh tangan kiriku dan begitu juga sebaliknya. posisi itulah yang mengantarkan ku pergi menemui Sang Pencipta. dilepas oleh cuma 1 atau 2 detik saja.

jangan buka pintunya hary.

erika melihat momen itu. kurasa begitu.

sayang, aku mencintai mu, sungguh mencintaimu.
aku tak dapat menghentikannya.
jangan buka pintunya hary. begitulah bunyi pesan diponselku itu.

kapankah dirimu menyusulku, erika?

perjalanan menuju momen 5 detik itu

hary, kau tau apa kelemahanmu? tanyanya singkat.

aku hanya diam.

kau hidup dengan kenanganmu, dengan semua masa lalu. itu dulu, dulu, dulu. katanya dengan penuh emosi.

tapi kau tak dapat menjadi seperti ini jika kau tak begitu dulu. kataku.

dulu ada rasa, ada rasa dalam hati. ada. kau tak dapat menghindari itu, tak dapat menghindari kebenaran. lanjutku.

itu salahku. aku salah, tak berpikir panjang. kau terlalu menarik hati dan membutakan mataku. jawabnya.

benarkan, rasa itu ada? kataku.

lalu kenapa dengan kita sekarang? tanyanya.

sudah bosan? melihat wanita ini, tubuh ini? atau kau sekarang lebih penasaran dengan dia? tanyanya kemudian.

jangan mencoba mencari kambing hitam. kataku tenang.

sejenak riuhnya ombak merajai suasana….

dia berdiri dari tempat duduknya dan menuju kearah pantai. tertinggallah aku sendiri ditemani tas dan jaket warna biru langitnya, warna yang dulu dibencinya. dia terus berjalan dan kini berada tepat dibibir pantai, kakinya kini bersentuhan mesra dengan riak ombak air laut.

wooooiiii…teriaknya kepada dairyu, nama penguasa laut yang kami beri ketika kami pertama kali bertemu di sini, di pantai ini. siapakah yang salah kini? tanyanya.

apakah aku atau dia? teriaknya.

aku pun terpancing akan tindakannya itu, didorong oleh kawanan angin yang bertiup riuh aku pun akhirnya berada tepat dibelakang istriku ini. perempuan yang kunikahi 1 tahun yang lalu.

kenapa harus seperti ini? kataku.

dairyu…..kenapa dulu aku memilihnya? teriaknya terus tanpa memperhatikanku. seolah-olah suaraku tadi tak ada.

jangan seperti itu. kataku tegas.

dairyuuuuuu…teriaknya.

kau mencoba mempermainkanku? tanyaku.

dia terdiam kini,entah karna letih atau tahu aku akan marah besar atau ….

kau mencoba mempermainkanku?kataku dengan suara lebih keras dan lebih cepat.

kau mencoba mempermainkanku? kataku secepat kilat.

kini dia pun tertawa. senyuman itu kini kembali lagi. aku pun tertawa. aku tersenyum. cara kami memang beda, kami saling memahami dan mengerti jika salah satu dari kami bosan dengan hidup ini, dengan segala hal, maka yang satu lagi akan mencari ide untuk mengembalikan suasana itu. kami saling mengerti dan memahami. dia istriku , zerika, yang kunikahi 1 tahun lalu. aku menikahinya dengan cinta dan logika.

secepat kilat perkataanku itu secepat itu pula dia kugendong. kini wajahnya menatap indah wajahku. tanganku menyongkong tubuh indah ini, berbaring dengan nyaman ditanganku yang kokoh. kasih sayangku padanya memberikanku tenaga yang tak terkira.

dialah zerika.

kau tau jelek, kenapa aku masih hidup? kataku dengan penuh semangat.

kenapa boy? tanyanya.

karena perempuan idiot bernama zerika. jawabku yang berlanjut dengan senyuman.

hahaha…responnya.

siapa zerika? tanyanya kemudian.

aku berhenti. aku terdiam. dia masih berada digendonganku. masih ada tenaga.

apa kau bilang? tanyaku.

dia hanya menatapku dengan tatapan itu.

aku menidurkannya di atas pasair pantai kala itu. aku bertanya sekali lagi sambil jongkok “apa kau bilang?

dia tetap menatapku. masih dengan tatapan yang sama.

apa kau bilang? kini wajahku pun hanya tinggal beberapa meli lagi dari wajahnya.

dia masih begitu …..

kali ini hal itu tak lagi berasa biasa, caranya tetap sama namun rasanya kini berbeda. dia istriku, bukan pacarku.

dia tersenyum sesudah momen 5 detik itu.

Kaki kanannya dan kaki kiriku

Begitu senang hatinya ketika berdiri di belakangku. Dia berteriak dan tertawa berkali-kali.

Akupun tetap tenang dan berkonsentrasi, walau aku telah biasa namun aku tetap takut jatuh, takut merusak kedua-duanya. Dirinya dan glebo. Terkadang saat dia tertawa membuatku iri dan ingin berdiri juga. Menikmati angin yang menerpa rupa, rupaku yang tampan dan parasnya yang manis.

Glebo nama motor kesayanganku.

Erika tetap kekasihku. My inspiration. She is the only one. The choosen one. Love you so.

Kami dalam perjalanan panjang menuju suatu daerah dimana tak ada orang yang tahu selain aku dan sahabat baikku, martento. Sejak kemarin kami telah menempuh perjalanan yang cukup panjang mungkin 740 km. Kami telah bertukar pakaian 2 kali. Sekarang dia memakai warna kuning, warna kesukaanku, hanya ketika dia yang memakainya. Aku mengenakan kaos biru langit, kurasa dia tak terlalu suka. Mungkin.

Kami sama-sama menggunakan jeans berwarna biru dan sepatu yang sangat sporty.

Sepertinya erika sudah mulai letih terus berdiri di atas glebo, kini dia memilih duduk di atas jok. Dia memelukku erat, kurasa dia tak menyadarinya.

Aku tak kan memelukmu dari belakang, apapun yang akan terjadi. Katanya sebelum memutuskan untuk menerima pinanganku bertamasya ke tempat rahasiaku. Aku sudah meminta ijin pastinya.

Ahhh…senangnya. katanya dengan sisa tenaga yang ada namun masih ada semangat dan kebahagiaan di dalamnya.

Sepanjang perjalanan yang dilalui, dia terus memelukku, entah kenapa dia tak bicara atau memarahiku. Aku tahu dia menyadari sungguh bahwa diriku sengaja mencari jalan yang buruk demi sesuatu itu. Berkali-kali aku melakukannya. Dia tak bicara. Aku tersenyum. Milikku kah dirimu manis? Pikirku.

Ahhh…sudahlah, ku harus berkonsentrasi agar kebahagiaan ini tidak sekedar menjadi kenangan selamanya.

Dan seiring berjalannya waktu, ratusan ribu pohon ditebang, puluhan ribu suami istri berjibaku dimalam hari, ribuan gas makhluk paling mulia sejagat diproduksi secara alamiah, ratusan pengangguran tercipta dan puluhan orang membaca note ini dengan khusyuk seakan tak ada kerjaan lain, kami pun sampai pada tujuan kami. Tempat rahasiaku, surga tak berbayar, karena alam begitu baik padaku, dia menyediakan segalanya. Pemandangan yang indah, pohon yang luar biasa, ilalang yang lembut. Semua fasilitas ada di sini, ada di dalam hati dan pikiran kami.

Glebo berhenti seirama gerakan jemariku menekan pedal rem.

Erikaku tak dapat menguasai dirinya. Tak ada kata terucap dari bibirnya, langsung berjalan menuju padang ilalang yang terbentang luas di depan kami. Gerakan seirama para ilalang mengikuti tuntunan angin menciptakan sensasi yang mengagumkan. Tak pernah ku bosan melihatnya. Aku suka, erikaku pun begitu.

Kini dia telah berada di tengah-tengah surga itu, berdiri dan lalu duduk. Ia kini membelakangi pohon yang ada satu-satunya di sini dan satu-satunya pria tampan tentunya.

Sejenak aku hanya melihatnya. Sepertinya dia sangat menikmati suasana.

Tak lama kemudian dia memalingkan wajahnya dan melihat ke arahku. Dia melepaskan senyum padaku dan langsung menatap kembali ke arah samudera hindia. Roger that, pikirku. Aku pun datang menjumpainya, berdiri di samping kanannya, berdiri beberapa saat dan akhirnya dengan elegan duduk di samping gadis ini. Ada sensasi yang kurasa. Ku harus bertahan, pikirku lekas.

Aku memalingkan wajahku ke arahnya dan berkata “kau suka?”

Dia hanya tersenyum.

Ohh tidak, dia begitu mempesona kala itu. Tak ada suara sejak dia memelukku di atas glebo kala itu. Hanya senyum manisnya yang muncul, menebar pesona khas wanita.Tak kan kubiarkan dia mengeluarkan senjata rahasianya, tidak untuk momen ini, tak kan kurusak suasana ini, pikirku.

Hary. Katanya pelan.

Ya. jawabku.

2 tahun yang lalu mortento duduk di atas batu itu. Katanya. Kami menghabiskan waktu bersama hingga esok tiba. Tatapan matanya berbeda kini. Aku tau maksudnya, aku telah dewasa.

Sungguh hal itu membuatku marah dan kecewa. Aku ingin sekali marah, tapi apalah daya diri ini, ketika janji telah terucap maka wajiblah untuk dipenuhi. Air mata itu, aku tak ingin melihatnya untuk kedua kali. Tak kan kubiarkan senjatanya itu keluar lagi. Ohh…Tuhanku.

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.